Download aplikasi Takwa di Google Play Store

Adab Safar yang harus Kita Ketahui

Adab Safar yang harus Kita Ketahui

Apa yang terlintas di kepala anda ketika mendengar kata Safar?, mungkin banyak dari kalian yang menjadikan kata tersebut menjadi kata safari. Safar adalah keluar dari tempat tinggal untuk melakukan perjalanan jauh. Safar merupakan bagian hidup dari setiap muslim dalam rangka menjalankan ketaatannya kepada Allah SWT untuk meraih kemaslahatan dunia dan akhirat. Termasuk kesempurnaan agama ini dan kemudahan-kemudahan yang ada didalamnya, Allah SWT mengajarkan adab safar dalam Al-qur’an dan Sunnah Nabi-Nya SAW.

Sebelum kita membahas beberapa adab safar, alangkah baiknya apabila kita mengetahui apa arti dari adab safar itu sendiri.

Pengertian 

Adab adalah norma atau aturan mengenai sopan santun yang didasarkan atas aturan agama, terutama agama islam. Sedangkan safar dalam bahasa arab berarti menempuh perjalanan. Adapun secara syari’at safar adalah meninggalkan tempat bermukim dengan niat menempuh perjalanan menuju suatu tempat. Maka adab safar berarti suatu norma mengenai sopan santun dalam melakukan perjalanan menuju suatu tempat.

Beberapa adab safar beserta dalilnya

  1.     Hendaknya tidak sendirian

Yang demikian ditujukan agar dalam Safar keamanan lebih terjaga, saling melindungi dan saling mengingatkan dalam hal kebaikan.

Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

الرَاكِبُ شَيْطَانٌ وَالرَاكِبَانِ شَيْطَانَانِ وَالثَلَاثَةُ رَكْبٌ

 “orang yang berkendaraan sendirian adalah setan, orang yang berkendaraan berdua adalah dua setan, orang yang berkendaraan bertiga maka itulah orang yang berkendaraan yang benar.“ (HR. Malik dalam Al Muwatha, Abu Daud no.2607, dan At Tirmidzi no. 1674, dihasankan Al Albani dalam Shahih Abu Daud)

Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

لَوْ يَعْلَمُ النَاسُ مَا فِيْ الوَحْدَةِ مَا أَعْلَمُ، مَا سَارَ رَاكِبٌ بِلَيْلٍ وَحْدَهُ

 “Andaikan orang-orang mengetahui akibat dari bersafar sendirian sebagaimana yang aku ketahui, maka mereka tidak akan bersafar di malam hari sendirian.“ (HR. Bukhari no. 2998)

  1.     Mencari teman Safar yang baik

Dalam hal ini mencari teman yang baik dapat disesuaikan dengan tujuan adab yang pertama yaitu ‘agar saling mengingatkan dalam hal baik’. Sehingga supaya tujuan tersebut tercapai makan kita membutuhkan teman yang baik. Rasulullah pernah bersabda :

الرَجُلُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

 “Keadaan agama seseorang dilihat dari keadaan agama teman dekatnya. Maka hendaklah kalian lihat siapa teman dekatnya.” (HR. Tirmidzi no.2378, ia berkata: ‘hasan gharib’, dihasankan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi)

  1.     Boleh menjamak shalat, namun lebih utama tidak dijamak.

Adab Safar yang satu ini di misalkan dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW ketika di Arafah saat haji wada'(menjamak takdim (jamak yang dilakukan pada waktu shalat pertama) dzuhur dan asyar), dan ketika beliau di muzdalifah( jamak takhir(dilakukan pada waktu shalat sesudahnya) maghrib dan isya’). Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan:

وَلَهُ الجَمْعُ يَجُوْزُ لَهُ الجَمْعُ بَيْنَ الظُهْرِ وَالعَصْرِ، بَيْنَ المـَغْرِبِ وَالعِشَاءِ، لَكِنْ تَرَكَهُ أَفْضَلُ إِذَا كَانَ نَازِلاً لَيْسَ عَلَيْهِ مَشَقَّةٌ تَرَكَهُ أَفْضَل

 “Orang yang safar dibolehkan menjamak salat Zuhur dan Asar, salat Magrib dan Isya, namun meninggalkannya itu lebih utama, jika ia singgah di suatu tempat dan tidak ada kesulitan, maka meninggalkan jamak itu lebih utama”

  1.     Dianjurkan mengqasar shalat

Adapun mengqasar shalat hukumnya sunnah muak adah dalam adab ketika Safar. Seperti dalam dalil berikut: Ibnu Umar radhiallahu’anhu mengatakan:

صَحِبْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ لاَ يُرِيْدُ فِي السَّفَرِ عَلَى رَكْعَتَيْنِ، وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ كَذَلِكَ رضي الله عنهم

Aku biasa menemani Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dan beliau tidak pernah menambah salat lebih dari dua rakaat dalam safar. Demikian juga Abu Bakar, Umar dan Utsman, radhiallahu’anhum.” (HR. Bukhari no. 1102, Muslim no. 689)

 

Baca Juga: Adab Keluar Rumah Menurut Islam

 

  1.     Wajib shalat di darat selama masih memungkinkan

Berdasarkan firman Allah Ta’ala:

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِيْ السَمَاءِ فَلاَ نُوِلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوِلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ المـَسْجِدِ الحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهُ

 “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya” (QS. Al Baqarah: 144)

Maka melaksanakan shalat wajib pada dasarnya dilakukan di darat, karena apabila tidak didarat sulit bagi para musafir (orang yang sedang safar) untuk menghadap kiblat.

  1.     Berpamitan kepada keluarga dan tetangga

Adab Safar yang satu mengikuti sunnah Rasulullah SAW, seperti dalam Hadits berikut:

Dari Ibnu Umar radhiallahu’anhu, beliau berkata:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوَدِّعُنَا فَيَقُوْلُ: أَسْتَوْدِعُ اللهَ دِيْنَكَ وَأَمَانَتَكَ وَخَوَاتِيْمَ عَمَلِكَ

 “Biasanya Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berpamitan kepada kami (sebelum safar) kemudian membaca doa: astaudi’ullah diinaka wa amaanataka wa khowaatima amalika (aku titipkan kepada Allah, agamamu, amanatmu, dan penutup amalanmu)” (HR. Ahmad, 6/242, Abu Daud no. 2600, At Tirmidzi no. 3443, dishahihkan oleh Ahmad Syakir dalam Takhrij Musnad Ahmad).

  1.     Membaca doa keluar rumah

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW bersabda:

إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، لَاحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، قَالَ: يُقَالُ حِيْنَئِذٍ: هُدِيْتَ، وَكُفِيْتَ وَوُقِيْتَ فَتَتَنَحَّى لَهُ شَيَاطِيْنٌ، فَيَقُوْلُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ: كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ؟

”Apabila seseorang keluar dari rumahnya kemudian dia membaca doa: bismillaahi tawakkaltu ‘alallahi laa haula walaa quwwata illaa billah (dengan menyebut nama Allah, yang tidak ada daya tidak ada kekuatan kecuali atas izin Allah), maka dikatakan kepadanya, ‘Kamu akan diberi petunjuk, kamu akan dicukupi kebutuhannya, dan kamu akan dilindungi’. Seketika itu setan-setan pun menjauh darinya. Lalu salah satu setan berkata kepada temannya, ’Bagaimana mungkin kalian bisa mengganggu orang yang telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi (oleh Allah)’” (HR. Abu Daud no. 5095, At Tirmidzi no. 3426; dishahih oleh Al-Albani dalam Shahih Abu Daud).

  1.     Membaca doa naik kendaraan

Dalam keadaan safar tentu saja tidak luput dengan adanya kendaraan, dan hendaknya ketika menaiki kendaraan apapun kita membaca doa :

سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ

“Maha Suci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami”.

  1.     Memperbanyak doa di perjalanan

Dalam sebuah perjalanan sebaiknya kita menggunakan waktu/kesempatan dengan memperbanyak doa karena dalam keadaan tersebut adalah waktu terkabulnya doa, seperti yang dijelaskan dalam dalil berikut:

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ دَعْوَةُ المـَظْلُوْمِ، وَدَعْوَةُ المـُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ

 “Ada tiga doa yang pasti dikabulkan dan tidak ada keraguan lagi tentangnya: doanya seorang yang dizalimi, doanya musafir, doa buruk orang tua terhadap anaknya’” (HR. Ahmad 2/434, Abu Daud no. 1536. Dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah).

  1. Segera pulang jika urusan sudah selesai

Hendaknya bagi seorang musafir segera pulang ketika semua urusan nya telah selesai. Hal ini dijelaskan dalam hadits:

 Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

السَفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ العَذَابِ، يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوَامَهُ، فَإِذَا قَضَى أَحَدُكُمْ نَهْمَتَهُ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ

“Safar adalah sepotong azab, seseorang diantara kalian ada yang terhalang untuk makan, terhalang untuk minum atau untuk tidur. Maka jika kalian sudah menyelesaikan urusannya, maka hendaknya segera kembali pada keluarganya.” (HR. Bukhari no.3001, Muslim no.1927).

  1. Shalat dua rakaat sepulang safar

Dari Ka’ab bin Malik radhiallahu’anhu, ia berkata:

أَنَّ النَبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ بَدَأَ بِالمـَسْجِدِ فَرَكَعَ فِيْهِ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ جَلَسَ

“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam jika beliau pulang dari safar, beliau mendahulukan masuk masjid kemudian salat dua rakaat di masjid kemudian duduk.” (HR Bukhari no. 3088, Muslim no. 2769)

_

Penulis:
Yanuar Huda Assa’banna,
Alumni Fakultas Syari’ah di UNIDA GONTOR

Editor:
Azman Hamdika Syafaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *